 |
| Hadits tentang penyakit Ain |
Ibu A : "
Ini loh, anak saya belum genap dua tahun paling pintar
diantara teman - teman sebayanya. Sudah bisa lari - lari, udah pinter
ngomong, makannya lahap, makanya badannya montok. Duh, senengnya..."
Ibu B : "
Baguslah, iya Si A emang pinter ya? Anak saya malah baru bisa jalan lebih dari 15 bulan. Makannya juga susah banget nih..."
Nah, waktu malamnya, si A rewel tidak seperti biasanya. Tidak mau
menyusu. Kejadian itu berlangsung terus menerus hingga beberapa bulan
lamanya. Tibalah waktunya si A disapih, namun dia masih enggan makan.
Sepanjang malam rewel tanpa sebab, sehingga membuat badannya kurus
kering. Sering sakit dan tidak lincah seperti sebelumnya. Setelah
periksa ke DSA (Dokter Spesialis Anak), sang Dokter pun mengatakan tidak
ada indikasi medis apapun.
Apa itu Penyakit 'Ain?
Secara bahasa, penyakit ‘Ain itu diambil dari kata ‘ana-Ya’inu (bahasa
Arab) artinya apabila ia menatapnya dengan matanya. Asalnya dari
kekaguman orang yang melihat sesuatu, kemudian diikuti oleh jiwanya yang
keji, kemudian menggunakan tatapan matanya itu untuk menyampaikan racun
jiwanya kepada orang yang dipandangnya. Sehingga, apa yang dilihat oleh
hati yang hasad dapat membahayakan Orang lain.
Penyakit 'Ain bukanlah penyakit medis, tetapi dapat mengganggu kesehatan
Orang yang terkena 'Ain. Yang paling rentan terkena penyakit 'Ain
adalah anak - anak dan Balita, karena mereka masih lemah dan belum bisa
membentengi dirinya sendiri dari pengaruh jahat di sekitarnya. Tidak
menutup kemungkinan, akan menimpa Orang Dewasa, Ibu Hamil, Hewan, bahkan
Harta Benda.
Dari Ilustrasi kasus di atas, terlihat jelas bahwa Ibu A tengah
menceritakan tentang kepintaran anaknya kepada Ibu B. Namun, kondisi
anak Ibu B tidaklah lebih baik dari Si A. Secara tersirat, Ibu B merasa
iri dengan perkembangan Si A yang bagus.
Dari perbincangan inilah, panah hasad mengenai si A. Sehingga,
menyebabkan malamnya si A rewel. Padahal, dari lisannya meluncurkan
pujian, namun disertai rasa dengki, yang tentu saja, Setan turut
berperan dalam membidikkan panah 'Ain, hingga mengenai sasarannya.
Penyakit yang diderita anak-anak tidak semuanya bisa dideteksi dengan
ilmu kedokteran. Ada juga sebab syar’i yaitu penyakit ‘ain. Sebagaimana
pernah terjadi di zaman Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam.
Beliau pernah melihat anak perempuan di rumah Ummu Salamah istri beliau.
Di wajah anak itu ada warna kehitaman. Beliau kemudian berkata kepada
Ummu Salamah,“Ruqyahlah dia, karena dia terkena ‘ain.” (HR. Bukhari dan
Muslim)
Apakah Penyakit 'Ain Benar Adanya?
Secara hakiki Penyakit 'Ain itu benar adanya. Dari Ibnu Abbas
Radhyallahu 'anhumma, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,
“ Ain itu benar adanya, andaikan ada sesuatu yang dapat mendahului
taqdir maka ‘ain akan mendahuluinya, dan apabila kalian diminta untuk
mandi maka mandilah.” (HR. Muslim).
Penyakit ‘ain itu benar-benar ada dan bukan khurafat yang
dihubung-hubungkan dengan pujian. Sebagaimana anggapan sebagian besar
masyarakat Indonesia bahwa pujian kepada seorang anak akan menyebabkan
sakit. Jadi bukan pujian yang menyebabkan dampak buruk bagi anak yang
dipujinya, melainkan bermula dari pandangan mata sang pemujinya, baik
pujian itu karena ada rasa iri atau karena benar-benar ada kekaguman.
Bagaimana Cara Kerja Penyakit 'Ain?
Ibnu Hajar berkata :"Sebagian orang merasa bingung, mereka bertanya:
'Bagaimanakah cara kerja 'ain sehingga bisa memudharatkan orang dari
jarak yang jauh?', sudah banyak sekali orang yang tertimpa sakit dan
kekuatannya melemah hanya karena pandangan mata, semua itu terjadi
karena ALLAH menciptakan di dalam unsur ruh suatu kekuatan yang bisa
memberikan pengaruh, dan karena pengaruh tersebut sangat berkaitan
dengan mata maka pengaruh yang ditimbulkannya disebut al-ain (mata)
Sebenarnya bukan mata yang memberikan pengaruh akan tetapi yang
sebenaranya terjadi adalah pengaruh ruh, maka pandangan yang keluar
melalui mata seorang (yang hasad atau kagum) adalah panah maknawi yang
jika mengenai suatu jasad yang tidak berperisai maka panah tersebut akan
mempengaruhi badan dan jika tidak berpengaruh berarti ia tidak mengenai
sasarannya akan tetapi kembali kepada pemiliknya, persis sama dengan
panah biasa”.
Oleh karenanya, panah yang keluar dari mata adalah panah berupa ungkapan
tentang sifat seseorang, ia adalah racun lisan, buktinya adalah seorang
yang buta bisa menimpakan penyakit 'ain kepada orang lain, dan Setan
yang selalu mengintai melahap ungkapan lisan yang tidak dibarengi dengan
menyebut nama ALLAH sehingga bisa berpengaruh pada jasad orang yang
didengki dengan izin ALLAH jika jasad tersebut tidak dibentengi (dengan
Dzikir dan Wirid).
Bagaimana Upaya Orang Tua Agar Anak Terhindar Dari Penyakit 'Ain?
1. Hendaklah orang tua membiasakan diri mereka membentengi anak-anaknya
dari bahaya ‘ain dengan ruqyah-ruqyah (bacaan-bacaan) yang diajarkan
dalam Islam. Diriwayatkan dari Ibnu Abbas bahwa Nabi shallallahu allaihi
wa sallam memohon perlindungan ALLAH untuk Hasan dan Husain dengan doa :
أُعِيذُكُمَا بِكَلِمَاتِ اللَّهِ التَّامَّةِ مِنْ كُلِّ شَيْطَانٍ وَهَامَّةٍ وَمِنْ كُلِّ عَيْنٍ لَامَّةٍ
“U’idzukuma bi kalimaatillaahit taammati min kulli syaithonin wa haamatin wa min kulli ‘ainin laamatin.”
"Aku berlindung kepada ALLAH untuk kalian berdua dengan kalimat -
kalimat ALLAH yang sempurna dari segala syaitan, binatang yang berbisa
dan pandangan mata yang jahat." (HR. Abu Daud)
2. Sebagaimana yang telah disebutkan oleh Imam Ibnul Qoyyim dalam Zadul
Ma’ad 4/159, hendaknya para orang tua tidak menampakkan suatu kelebihan
yang menakjubkan yang dimiliki anak-anaknya yang dikhawatirkan akan
mengundang rasa iri atau kedengkian orang yang melihatnya. Lalu Ibnu
qoyyim menukil atsar dari Imam Baghowi bahwasanya pernah suatu ketika
Utsman bin Affan Radhyallahu 'anhu melihat seorang anak kecil yang
sangat elok rupanya lagi menawan, kemudian Ustman berkata, “Tutupilah
(jangan ditampakkan) lubang dagu (yang membuat orang takjub) pada anak
itu.” Maka keadaan seperti itu sangat dikhawatirkan akan terjadinya
pengaruh buruk ‘ain. Lebih-lebih kalau ada orang yang terkenal mempunyai
sifat iri dan dengki.
3. Hendaklah para orang tua tidak berlebihan menceritakan kelebihan -
kelebihan atau kebaikan - kebaikan anaknya yang tidak dimiliki anak-anak
lain, sehingga mengundang rasa iri dan dengkii siapa saja yang
mendengarnya, kemudian berusaha melihatnya, hingga ALLAH menakdirkan
terjadinya pengaruh buruk ‘Ain tersebut.
Upaya Apa Yang Harus Ditempuh Jika Anak Tertimpa Penyakit 'Ain?
1.) Memandikan Pelaku ‘Ain
Jika telah diketahui pelaku ‘Ain-nya, maka perintahkanlah ia agar mandi
kemudian air yang dipakai mandi tersebut diambil dan disiramkan kepada
orang yang terkena ‘Ain dari arah belakangnya.
Dari Umamah bin Sahl bin Hunaif, bahwasannya ayahnya telah menceritakan
kepadanya : Bahwa Rasulullah shallallaahu ‘alaihi wasallam pergi
bersamanya menuju Makkah. Ketika sampai di satu celah bukit Kharar di
daerah Juhfah, maka Sahl bin Hunaif mandi. Ia adalah seorang yang yang
berkulit sangat putih dan sangat bagus. Maka ‘Amir bin Rabi’ah - kerabat
Bani ‘Adi bin Ka’b – memandangnya ketika ia sedang mandi. ‘Amir berkata
: ‘Aku belum pernah melihat seperti sekarang, juga tidak pernah melihat
kulit wanita perawan bercadar’. Maka tiba-tiba Sahl jatuh terguling
(karena sakit. Maka datag Rasulullah shallallaahu ‘alaihi wasallam dan
dikatakan kepada beliau : “Wahai Rasulullah, apa kira-kira yang terjadi
pada Sahl ? Ia (Sahl) tidak bisa mengangkat kepalanya dan sekarang ia
belum juga sadar”. Kemudian Rasulullah shallallaahu ‘alaihi wasallam
bertanya : “Apakah ada seseorang yang kalian curigai ?”. Mereka berkata :
“Amir bin Rabi’ah telah memandangnya”. Kemudian Rasulullah shallallaahu
‘alaihi wasallam memanggilnya lalu memarahinya dan bersabda : ‘Mengapa
salah seorang diantara kalian hendak membunuh Saudaranya? Mengapa ketika
kamu melihat sesuatu hal yang menakjubkanmu, kamu tidak memberkahi ?”.
Kemudian beliau berkata kepadanya : “Mandilah untuknya !”. Kemudian
‘Amir mencuci mukanya, kedua tangannya, kedua sikunya, kedua lututnya,
jari-jari kedua kakinya, dan bagian dalam kainnya di dalam bejana.
Kemudian (air bekas mandi itu) disiramkan kepadanya (Sahl) oleh
seseorang ke kepalanya dan punggungnya dari arah belakangnya. Kemudian
bejana tersebut ditumpahkan isinya di belakangnya. Maka setelah hal itu
dilakukan, Sahl kembali bersama orang-orang dalam keadaan tidak kurang
suatu apa (sehat kembali). ” (HR. Ahmad, Malik, dan Nasa’i)
Bisa juga pelaku ‘Ain cukup berwudhu saja dan kemudian air bekas wudhunya dipakai mandi oleh orang yang terkena ‘Ain.
Dari ‘Aisyah radliyallaahu ‘anhu ia berkata : “Orang yang melakukan ‘Ain
diperintahkan agar berwudlu kemudian orang yang terkena ‘Ain mandi dari
air (bekas wudlu tadi)” (HR. Abu Dawud)
At-Tirmidzi menjelaskan : ”Pelaku ‘ain diperintahkan untuk mandi dengan
menggunakan air dalam baskom. Lalu meletakkan telapak tangannya di mulut
dan berkumur-kumur, lalu disemburkan ke dalam baskom tersebut. Baru
setelah itu membasuh wajahnya dengan air dalam baskom tersebut, lalu
memasukkan tangan kirinya dan mengguyurkan air ke lutut kanannya dengan
air baskom tersebut. Kemudian memasukkan tangan kanannya dan menyiramkan
air baskom itu ke lutut kirinya. Baru kemudian membasuh tubuh di balik
kain, namun baskom itu tidak usah diletakkan di atas tanah atau lantai.
Setelah itu sisa air diguyurkan ke kepala orang yang terkena ‘ain dari
arah belakang satu kali guyuran.
2.) Meruqyahnya dan Meletakan tangan ke atas kepala penderita ‘Ain dengan membaca :
بِسْمِ اللهِ أَرْقِيْكَ مِنْ كُلِّ
شَيْءٍ يُؤْذِيْكَ مِنْ شَرِّ كُلِّ نَفْسٍ أَوْ عَيْنٍ حَاسِدٍ اللهُ
يَشْفِيْكَ بِسْمِ اللهِ أَرْقِيْكَ
“Dengan nama ALLAH, aku meruqyahmu dari setiap sesuatu yang menyakitimu
dan dari kejelekan setiap jiwa atau mata yang dengki. ALLAH-lah yang
menyembuhkanmu. Dengan nama ALLAH aku meruqyahmu” (HR. Muslim)
بِسْمِ اللهِ يُبْرِيْكَ وَمِنْ كُلِّ دَاءٍ يَشْفِيْكَ وَمِنْ شَرِّ حَاسِدٍ إِذَا حَسَدَ وَمِنْ شَرِّ ذِيْ عَيْنٍ
“Dengan nama ALLAH, mudah-mudahan Dia membebaskanmu, dari setiap
penyakit, mudah-mudahan Dia akan menyembuhkanmu, melindungimu dari
kejahatan orang dengki jika dia mendengki dan dari kejahatan setiap
orang yang mempunyai ‘Ain (mata dengki)” (HR. Muslim)
3.) Meletakkan tangan di bagian atas yang sakit dan meruqyah dengan
QS. Al-Ikhlash, Al-Falaq, dan An-Naas, Ayat Kursi, bagian penutup surat
al - Baqarah (dua ayat terakhir), serta mendo'akan dengan do'a ruqyah
yang syar'i.
4.) Membacakan pada air (dengan bacaan –bacaan ruqyah yang syar’i)
disertai tiupan, dan kemudian meminumkan pada penderita,dan sisanya
disiramkan ke tubuhnya. Hal itu pernah dilakukan Rasulullah shollallhu
alaihi wa sallam kepada Tsabit bin Qois. (HR. Abu Daud)
5.) Dibacakan (bacaan) pada minyak dan kemudian minyak itu dibalurkan. (HR Ahmad).
Jika bacaan itu dibacakan pada air zam-zam,maka yang demikian itu lebih
sempurna jika air zam-zam itu mudah diperoleh atau kalau tidak, boleh
juga dengan air hujan.
1. Mendoakan keberkahan kepada apa yang dilihatnya
Dari Amir bin Robi’ah Radhiyallahu 'anhu :
Rasullullah shallallahu alaihi wa sallam bersabda : “Jika salah seorang
dari kalian melihat sesuatu yang menakjubkan dari saudaranya, pada
dirinya atau pada hartanya, maka doakan keberkahan padanya, karena
sesungguhnya penyakit ain itu haq (benar). (HR Ahmad).
Di antara cara mendoakan keberkahan terhadap apa yang dilihatnya adalah :
اللَّهُمَّ بَارَكَ اللَّهُ فِيهِ
"Ya ALLAH Semoga ALLAH memberikan berkah padanya”
اللَّهُمَّ بَارِكْ عَلَيْهِ
"Ya ALLAH berkahilah atasnya”
اللَّهُمَّ بَارِكْ لَهُ
"Ya ALLAH Berkahilah Baginya "
2. Hendaknya Mengucapkan :
مَا شَاءَ اللَّهُ لَا قُوَّةَ إِلَّا بِاللَّهِ
“Sungguh atas kehendak ALLAH - lah semua ini terwujud”
Kesalahan - kesalahan Orang Tua Ketika Anak Terkena Penyakit 'Ain
Meletakkan gunting di bawah bantal si bayi dengan keyakinan itu akan
menjaganya. Sungguh ini termasuk kesyirikan karena menggantungkan
sesuatu pada yang tidak dapat memberi manfaat atau menolak bahaya.
Mengalungkan anak dengan Jimat, Penangkal Tolak Bala, dan lain
sebagainya. Ini juga termasuk perbuatan syirik dan hanya akan melemahkan
si anak dan orang tua karena berlindung pada sesuatu selain ALLAH
Subhanahu wa Ta’ala. Dan sungguh, amat dashyat ancaman bagi Pelaku
Syirik. Yaitu Dosa Besar Menyekutukan ALLAH dengan selainNya, serta
tidak akan diampuni hingga Pelakunya benar - benar bertaubat.
Apakah Memajang Foto Di Facebook Dapat Menyebabkan Penyakit 'Ain?
Hadits Abu Umamah bin Sahl bin Hunaif di atas menunjukkan bahwa orang
yang terkena penyakit ‘ain karena dipandang secara langsung. Adapun
apakah mungkin terkena penyakit ‘ain jika dipandang melalui fotonya atau
gambarnya maka kami belum mengetahui penjelasan ulama akan hal
tersebut, silakan ditanyakan kepada para Ustadz lainnya. Akan tetapi
membuat gambar - gambar bernyawa apakah yang dibuat oleh tangan maupun
mesin adalah terlarang berdasarkan keumuman dalil diharamkannya gambar
bernyawa tanpa memberikan pengecualiaan untuk gambar yang dibuat oleh
mesin. Berdasarkan banyak hadits, diantaranya,
“Dari Aisyah radhiyallahu’anha, seorang istri Nabi shallallahu’ala ihi
wa sallam, bahwasannya beliau mengabarkan kepada Nabi shallallahu’alaihi
wa sallam, bahwa beliau telah membeli bantal yang padanya terdapat
gambar-gambar bernyawa, ketika Rasulullah shallallahu’ala ihi wa sallam
melihatnya, maka beliau hanya berdiri di pintu, tidak mau memasuki
rumah. Aisyah pun mengetahui ketidaksukaan Rasulullah shallallahu’alaihi
wa sallam yang tergambar pada wajah beliau, Aisyah berkata, “Wahai
Rasulullah, aku kembali kepada ALLAH dan Rasul-Nya, apakah dosaku?”
Beliau bersabda, “Untuk apa bantal ini?” Aisyah menjawab, “Aku belikan
untuk engkau duduk di atasnya dan bersandar padanya.” Maka Rasulullah
shallallahu’ala ihi wa sallam bersabda,
“Sesungguhnya para pemilik gambar-gambar ini akan diazab pada hari
kiamat dan dikatakan kepada mereka: Hidupkan yang telah kalian
ciptakan.”
Dan Nabi shallallahu’alaihi wa sallam bersabda,
“Sesungguhnya rumah yang terdapat padanya gambar-gambar bernyawa tidak akan dimasuki oleh malaikat.” (HR. Al-Bukhari dan Muslim)
Sebagai bentuk kehati - hatian, sebaiknya tidak memajang foto Bayi, anak - anak, maupun Wanita di Facebook.
Sikap Terbaik Dalam Menyikapi Bahaya 'Ain
Perlulah kita selalu mengingat, bahwa sekalipun kita mengetahui bahaya
‘ain memiliki pengaruh besar dan berbahaya, namun tidaklah semua dapat
terjadi kecuali dengan ijin ALLAH Subhanahu wa Ta’ala. Dan kita sebagai
orang Islam tidaklah berlebihan dalam segala sesuatu.
Termasuk dalam masalah ‘ain ini, maka seseorang tidak boleh berlebihan
dengan menganggap semua kejadian buruk berasal dari ‘ain, dan juga tidak
boleh seseorang menganggap remeh dengan tidak mempercayai adanya
pengaruh ‘ain sama sekali dengan menganggapnya tidak masuk akal. Ini
termasuk pengingkaran terhadap hadits-hadits shahih Nabi shalallahu
‘alaihi wasallam.
Sikap terbaik bagi seorang muslim adalah berada di pertengahan, yaitu
mempercayai pengaruh buruk ‘ain dengan tidak berlebihan sesuai dengan
apa yang dikabarkan Nabi Muhammad shallallahu ‘alaihi wa sallam.
Wallahu a’lam bishawab.
Sumber: http://www.kabarmakkah.com/2015/12/kupas-tuntas-tentang-ain-pandangan.html